{"id":10137,"date":"2022-12-23T05:15:34","date_gmt":"2022-12-22T22:15:34","guid":{"rendered":"https:\/\/info.populix.co\/?p=10137"},"modified":"2022-12-23T05:19:55","modified_gmt":"2022-12-22T22:19:55","slug":"design-thinking-adalah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/design-thinking-adalah","title":{"rendered":"Design Thinking: Pengertian, Manfaat, dan Tahapannya"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Anda mungkin menganggap <em>design thinking <\/em>adalah istilah yang identik dengan pekerjaan <em>designer, <\/em>arsitek, UI\/UX, desain grafis, atau <em>illustrator<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Padahal, <em>design thinking <\/em>adalah sebuah konsep yang bisa diadopsi oleh siapapun, mulai dari individu, UMKM, <a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/cara-memulai-bisnis-startup\/\"><strong>bisnis <\/strong><strong><em>startup<\/em><\/strong><\/a><em>, <\/em>maupun perusahaan besar sekalipun.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mengapa demikian? Hal ini karena <em>design thinking <\/em>sangat dibutuhkan untuk memahami kebutuhan pengguna, menciptakan produk baru, serta memperbaiki performa suatu layanan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Lantas, bagaimana cara menerapkan konsep <em>design thinking <\/em>dalam suatu bisnis? Yuk, simak penjelasannya pada artikel berikut!<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Apa Itu <\/strong><strong><em>Design Thinking?<\/em><\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengertian <em>design thinking<\/em> adalah sebuah pendekatan untuk melahirkan inovasi yang berpusat pada manusia atau <em>human-centered<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode <em>design thinking<\/em> terinspirasi dari bagaimana <em>designer<\/em> melahirkan suatu inovasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Design thinking<\/em> adalah metode yang mengintegrasikan tiga hal yaitu kebutuhan konsumen, peluang teknologi, dan keuntungan dari bisnis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil akhir dari <em>design thinking<\/em> adalah berupa produk yang menggabungkan beberapa elemen yaitu <em>desirability, viability<\/em>, dan <em>feasibility.<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elemen <em>desirability<\/em> adalah kesesuaian dengan kebutuhan konsumen. Sedangkan <em>viability<\/em> yaitu terkait dengan keuntungan bagi bisnis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Elemen lainnya yakni <em>feasibility<\/em> yang artinya secara teknis atau teknologi bisa diwujudkan.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Manfaat Design Thinking<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manfaat <em>design thinking<\/em> adalah sebagai alat inovasi bisnis yang dapat membantu perusahaan dalam menghadirkan solusi melalui teknologi ataupun menjelajahi pasar baru.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan inovasi yang dihadirkan <em>design thinking<\/em>, Anda akan lebih mudah dalam bersaing dengan kompetitor serta mempertahankan keberlangsungan hidup perusahaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Design thinking<\/em> adalah cara untuk membuat pemikiran dan gagasan menjadi sesuatu yang nyata serta mempermudah proses dari penciptaan inovasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/analisis-pasar-adalah\/\"><strong>Pentingnya Analisis Pasar untuk Bisnis, Ini Tujuan &amp; Caranya!<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Prinsip Dasar Design Thinking<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk bisa menerapkan metode ini, pastikan bahwa Anda telah memahami prinsip dasar dari metode <em>design thinking<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apa saja prinsip-prinsip dasar tersebut? Berikut adalah daftar dan penjelasannya:&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Daya Kreativitas Tinggi: <\/strong>Anda diperbolehkan mengembangkan ide seliar mungkin untuk menghasilkan solusi terbaik. Nantinya, gagasan tersebut akan disaring hingga menemukan yang paling tepat.<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Iteratif:<\/strong> Anda perlu menerapkan proses <em>design thinking<\/em> secara berulang demi bisa menghadirkan solusi yang paling sesuai dengan pengguna.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>User-Centered:<\/em><\/strong> Ide atau solusi yang dihadirkan harus sesuai dengan kebutuhan pengguna serta menyelesaikan masalah mereka.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Hands On: <\/em><\/strong><em>Design thinking<\/em> harus dilakukan dengan pengujian secara langsung sehingga Anda bisa mengetahui bagaimana respon calon pengguna terhadap ide yang ditawarkan.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\"><strong>Tahapan Design Thinking<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada beberapa jenis tahapan <em>design thinking<\/em>, salah satunya adalah model yang dibuat oleh Design School Stanford University.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahapan <em>design thinking<\/em> ini terbagi menjadi lima fase yaitu <em>empathize<\/em>, <em>define<\/em>, <em>ideate<\/em>, <em>prototype<\/em> dan <em>test<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penjelasan lengkap mengenai tahapan <em>design thinking<\/em> adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>1. Empathize<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Proses <em>design thinking<\/em> yang pertama adalah <em>empathize<\/em> atau empati. Tahap ini merupakan upaya untuk merasakan dan memahami apa yang dipikirkan konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada beberapa cara yang bisa Anda lakukan untuk menjalankan tahapan <em>emphatize<\/em> yaitu <em>observe<\/em>, <em>engage<\/em>, dan <em>immerse<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Observe<\/em> atau observasi berarti Anda harus mengamati perilaku dan tindakan konsumen. Hasil observasi perlu ditindaklanjuti dengan tahapan <em>engage<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Engage<\/em> adalah membangun interaksi langsung dengan konsumen melalui berbagai metode seperti interview, FGD (<em>focus group discussion<\/em>), kuesioner, dan sebagainya<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara terakhir pada tahapan <em>empathize<\/em> adalah <em>immerse<\/em> atau berpartisipasi dalam melakukan berbagai kegiatan&nbsp; yang dilakukan konsumen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil dari tahap ini adalah peta yang menggambarkarkan situasi atau kondisi konsumen<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>2. Define<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Define<\/em> adalah tahapan untuk menemukan masalah terpenting bagi konsumen sehingga solusi yang dihasilkan nanti berguna bagi konsumen.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Cara untuk melakukan proses <em>define<\/em> adalah dengan mengamati dan menemukan pola masalah yang paling penting dari peta hasil proses <em>emphatize <\/em>sebelumnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Setelah pola masalah ditemukan, Anda akan bisa menghasilkan <em>problem worth solving<\/em> atau masalah paling utama yang dialami konsumen dan perlu diselesaikan<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Manfaat yang bisa didapatkan dari proses <em>define<\/em> adalah Anda bisa lebih fokus dalam membuat pola masalah yang jelas sehingga ide bisa lebih mudah ditemukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pola masalah ini bisa menjadi panduan dalam membuat keputusan untuk menciptakan inovasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/riset-pasar-untuk-startup\/\"><strong>Panduan Riset Pasar untuk Startup, Ini Langkah-Langkahnya!<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>3. Ideate<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tahap <em>ideate<\/em> berusaha untuk menciptakan sebanyak mungkin alternatif ide dan menyeleksinya hingga menemukan yang terbaik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ide harus bebas mulai dari yang masuk akal hingga tidak masuk akal, tidak boleh ada batasan dalam menemukan ide. Tekniknya bisa dengan <em>brainstorming<\/em>, <em>scramper<\/em>, dan lain sebagainya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sebagai contoh, Anda bisa mulai dengan sedikit ide dulu. Setelahnya, buatlah cabang atau turunan dari ide yang sudah ada.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika gagasan yang dikumpulkan sudah banyak, Anda bisa mengkategorikannya dari yang realistis hingga tidak masuk akal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ide yang sudah dikategorikan bisa Anda pilih yang terbaik, lalu kombinasikan dengan beberapa ide lain dalam kategori yang berbeda.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kombinasikan ini akan melahirkan beberapa gagasan alternatif.<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>4. Prototype<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk membuat gagasan menjadi nyata, Anda perlu membuat <em>prototype<\/em> supaya ide dapat di lihat dan dirasakan lewat panca indera.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuan <em>prototype<\/em> dalam proses <em>design<\/em> <em>thinking<\/em> adalah supaya ide bisa lebih mudah dipelajari dan dievaluasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Beberapa contoh <em>prototype<\/em> yang bisa dibuat yaitu sketsa atau gambar, miniatur, dan <em>mockup<\/em>.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kunci untuk membuat <em>prototype<\/em> yang baik adalah dengan mewujudkan ide dalam bentuk nyata di awal tanpa perlu membuatnya sempurna.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nantinya, Anda bisa menemukan celah-celah perbaikan dari hasil <em>prototype<\/em> tersebut sehingga ide tersebut bisa disempurnakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/langkah-langkah-riset-pasar\/\"><strong>9 Langkah Riset Pasar yang Efektif untuk Kembangkan Bisnis<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\"><strong>5. Test<\/strong><\/h3>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Fase paling penting dalam <em>design thinking<\/em> adalah <em>test<\/em> atau pengujian <em>prototype<\/em> ke konsumen.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Mintalah konsumen Anda untuk mencoba menggunakan <em>prototype<\/em>. Setelah itu tanyakan kepada mereka mengenai <em>feedback<\/em> yang akan dijadikan sebagai evaluasi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil evaluasi tersebut akan menjadi dasar dari perbaikan atau perancangan kembali prototype. Selanjutnya, pengujian diulang kembali test kembali hingga dirasa sudah cukup baik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ada tiga prinsip utama dalam melakukan testing:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong><em>Show don&#8217;t tell: <\/em><\/strong>Cukup tunjukkan dan jangan menjelaskan apapun ke konsumen. Biarkan mereka sendiri yang mengeksplorasi sendiri.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Create experience:<\/em><\/strong> Proses pengujian harus bisa memberikan konsumen pengalaman dalam menggunakan <em>prototype<\/em> tersebut.<\/li>\n\n\n\n<li><strong><em>Ask users to compare:<\/em><\/strong> Minta konsumen untuk membandingkan setiap prototype yang dibuat.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Itu dia penjelasan tentang apa itu <em>design thinking, <\/em>beserta manfaat, prinsip dasar, dan tahapannya.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><em>Design thinking <\/em>adalah pendekatan untuk memecahkan masalah dengan mempertimbangkan kebutuhan <a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/target-pasar-adalah\/\"><strong><em>target <\/em><\/strong><strong>pasar<\/strong><\/a><em>.&nbsp;<\/em><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Banyak manfaat yang bisa Anda dapatkan saat menerapkan <em>design thinking, <\/em>seperti dapat meningkatkan inovasi dan pendapatan perusahaan.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nah, untuk mempermudah proses pendekatan kepada <em>target <\/em>pasar<em>,<\/em> Anda juga bisa memanfaatkan <a href=\"https:\/\/info.populix.co\/poplite\/\"><strong>Poplite by Populix<\/strong><\/a>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Poplite<\/strong> adalah <em>platform self-service <\/em>survei yang telah memiliki 300.000+ responden dan tersebar di seluruh Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Yuk, optimalkan riset bisnis kamu <strong>#DenganData<\/strong> yang akurat, kredibel, dan relevan bersama <strong>Populix<\/strong>!<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>Baca juga: <\/strong><a href=\"https:\/\/info.populix.co\/articles\/cara-riset-pasar-online\/\"><strong>Cara Riset Pasar Online untuk Tahu Kebutuhan Konsumen<\/strong><\/a><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anda mungkin menganggap design thinking adalah istilah yang identik dengan pekerjaan designer, arsitek, UI\/UX, desain grafis, atau illustrator.&nbsp; Padahal, design thinking adalah sebuah konsep yang bisa diadopsi oleh siapapun, mulai dari individu, UMKM, bisnis startup, maupun perusahaan besar sekalipun.&nbsp; Mengapa demikian? Hal ini karena design thinking sangat dibutuhkan untuk memahami kebutuhan pengguna, menciptakan produk baru, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":10139,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_angie_page":false,"_eb_attr":"","page_builder":"","footnotes":""},"categories":[43],"tags":[46,109],"class_list":["post-10137","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-insights","tag-bisnis","tag-strategi-bisnis"],"acf":[],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10137","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=10137"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10137\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":10138,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/10137\/revisions\/10138"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10139"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=10137"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=10137"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/info.populix.co\/articles\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=10137"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}