Strategi pricing atau strategi penetapan harga menjadi salah satu faktor paling krusial bagi brand FMCG di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin sensitif terhadap harga.
Kenaikan biaya hidup, inflasi, dan banyaknya pilihan produk membuat konsumen semakin rasional dalam mengambil keputusan pembelian.
Di industri FMCG (Fast-Moving Consumer Goods) yang sangat kompetitif, harga sering kali menjadi pembeda utama dalam pembelian offline maupun di platforme-commerce.
Akan tetapi, penentuan harga yang keliru justru dapat berdampak pada penurunan volume penjualan dan melemahnya loyalitas konsumen.
Brand FMCG tidak lagi bisa mengandalkan strategi pricing konvensional yang hanya berfokus pada margin. Oleh karena itu, pendekatan berbasis consumer insight dan riset pasar menjadi kunci agar strategi pricing tetap relevan dan berkelanjutan.
Perubahan Perilaku Konsumen FMCG yang Semakin Sensitif Harga
Konsumen FMCG saat ini semakin terbiasa membandingkan harga sebelum membeli suatu produk. Kemudahan akses informasi melalui marketplace dan aplikasi perbandingan harga membuat transparansi harga tidak bisa dihindari.
Sensitivitas harga juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi yang membuat konsumen lebih berhati-hati dalam mengelola pengeluaran harian. Akibatnya, konsumen cenderung memilih produk dengan value terbaik, bukan sekadar merek yang paling dikenal.
Fenomena downtrading atau perilaku konsumen yang beralih dari produk yang biasa mereka beli ke alternatif yang lebih murah, juga semakin sering terjadi di kategori FMCG. Konsumen beralih ke ukuran lebih kecil, merek alternatif, atau private label dengan harga lebih terjangkau.
Dalam kondisi seperti ini, strategi pricing yang tidak memahami perubahan perilaku konsumen berisiko kehilangan pangsa pasar. Brand perlu membaca sinyal pasar secara lebih mendalam sebelum menetapkan harga produk.
Baca juga: Temukan Peluang Pasar Baru FMCG Melalui Data Konsumen
Memahami Price Elasticity di Industri FMCG

Price elasticity (elastisitas harga) adalah ukuran seberapa sensitif permintaan atau penawaran suatu barang terhadap perubahan harganya, dihitung dengan membandingkan persentase perubahan kuantitas dengan persentase perubahan harga.
Price elasticity menjadi konsep penting dalam menentukan strategi penetapan harga produk FMCG. Konsep ini mengukur seberapa besar perubahan permintaan ketika terjadi perubahan harga.
Produk FMCG memiliki tingkat elastisitas yang berbeda tergantung kategori dan kebutuhan konsumen. Produk kebutuhan pokok cenderung lebih inelastis dibandingkan produk non-esensial atau premium.
Ketika harga produk elastis, kenaikan harga kecil saja dapat menyebabkan penurunan penjualan yang signifikan. Sebaliknya, produk yang inelastis masih dapat mempertahankan permintaan meskipun terjadi kenaikan harga.
Pemahaman terhadap price elasticity membantu brand menentukan batas aman dalam menaikkan atau menurunkan harga. Tanpa insight ini, keputusan pricing berpotensi merugikan bisnis dalam jangka panjang.
Elasticity juga dapat berbeda antar segmen konsumen. Oleh karena itu, strategi penetapan harga sebaiknya tidak disamaratakan untuk seluruh target pasar.
Trade-off antara Harga, Kualitas, dan Loyalitas Konsumen
Dalam strategi pricing FMCG, brand selalu dihadapkan pada trade-off antara harga, kualitas, dan loyalitas konsumen. Menurunkan harga terlalu agresif berisiko menurunkan persepsi kualitas produk.
Sebaliknya, mempertahankan harga tinggi tanpa nilai komunikasi yang kuat dapat membuat konsumen berpaling ke kompetitor. Loyalitas konsumen tidak hanya dibangun dari harga murah, tetapi juga dari konsistensi kualitas dan pengalaman.
Konsumen FMCG cenderung sensitif terhadap perubahan harga yang tidak sejalan dengan kualitas produk. Ketika harga naik tanpa peningkatan kualitas yang dirasakan, tingkat kepercayaan dapat menurun.
Strategi penetapan harga yang tepat harus mempertimbangkan persepsi nilai di mata konsumen. Nilai ini mencakup kualitas produk, manfaat fungsional, hingga emotional value dari sebuah merek.
Brand yang mampu menjaga keseimbangan antara harga dan kualitas cenderung memiliki loyalitas konsumen yang lebih kuat. Loyalitas ini pada akhirnya dapat mengurangi sensitivitas harga dalam jangka panjang.
Peran Segmentasi Konsumen dalam Strategi Pricing
Tidak semua konsumen FMCG memiliki tingkat sensitivitas harga yang sama. Segmentasi konsumen menjadi dasar penting dalam menyusun strategi penetapan harga yang lebih presisi.
Segmen konsumen dengan daya beli tinggi cenderung lebih fokus pada kualitas dan brand value. Sementara itu, segmen price-sensitive akan lebih responsif terhadap diskon dan promosi harga.
Dengan memahami perbedaan ini, brand dapat menerapkan strategi pricing yang berbeda untuk setiap segmen. Contohnya melalui variasi ukuran kemasan, varian produk, atau channel distribusi yang berbeda.
Segmentasi juga membantu brand menghindari perang harga yang tidak perlu. Strategi pricing yang tepat sasaran dapat meningkatkan profit tanpa mengorbankan volume penjualan.
Pendekatan berbasis data menjadi sangat penting untuk mengidentifikasi segmen mana yang paling sensitif terhadap perubahan harga. Di sinilah peran riset konsumen menjadi sangat relevan.
Baca juga: Optimalkan Promosi Produk FMCG dengan Insight Riset Konsumen
Pentingnya Riset Sebelum Menentukan Harga Produk FMCG

Menentukan harga tanpa riset ibarat mengambil keputusan berdasarkan asumsi. Strategi pricing yang efektif harus didukung oleh data dan insight konsumen yang akurat.
Riset pricing membantu brand memahami willingness to pay konsumen. Insight ini menjadi dasar dalam menetapkan harga optimal yang tetap kompetitif di pasar.
Selain itu, riset juga dapat mengungkap faktor apa saja yang memengaruhi persepsi harga. Faktor tersebut bisa berupa brand image, kualitas produk, hingga pengaruh promosi kompetitor.
Preference study memungkinkan brand memahami kombinasi harga dan atribut produk yang paling disukai konsumen. Dengan demikian, keputusan penetapan harga tidak hanya fokus pada harga, tetapi juga pada value yang ditawarkan.
Riset yang komprehensif membantu brand meminimalkan risiko kegagalan produk di pasar. Strategi pricing berbasis data juga lebih adaptif terhadap perubahan perilaku konsumen.
Dampak Strategi Pricing terhadap Pertumbuhan Brand FMCG
Strategi penetapan harga yang tepat dapat mendorong pertumbuhan brand secara berkelanjutan. Harga yang selaras dengan ekspektasi konsumen akan meningkatkan repeat purchase.
Sebaliknya, kesalahan dalam penentuan harga dapat merusak citra brand dalam waktu singkat. Konsumen FMCG cenderung cepat berpindah merek ketika merasa harga tidak lagi sesuai dengan value.
Strategi penetapan harga juga berpengaruh pada efektivitas promosi dan distribusi. Harga yang tidak kompetitif dapat membuat produk sulit masuk ke channel tertentu.
Dalam jangka panjang, strategi pricing yang konsisten dan berbasis insight akan memperkuat positioning brand. Hal ini menjadi fondasi penting untuk memenangkan persaingan di kategori FMCG.
Brand yang memahami sensitivitas harga konsumen akan lebih siap menghadapi dinamika pasar. Keputusan pricing pun tidak lagi bersifat reaktif, melainkan strategis.
Market Research Populix untuk Strategi Pricing FMCG Berbasis Data
Pendekatan berbasis consumer insight dan riset pasar menjadi kunci agar strategi pricing tetap relevan dan berkelanjutan. Terkait ini, Anda dapat memanfaatkan layanan Market Research Populix.
Market Research Populix membantu brand ataupun industri FMCG memahami sensitivitas harga konsumen melalui riset pricing dan preference study berbasis data. Insight yang dihasilkan membantu brand menyusun strategi yang lebih tepat, relevan, dan berorientasi pada konsumen.
Dengan pendekatan riset yang komprehensif, Populix mendukung brand dalam membaca price elasticity, trade-off harga dan kualitas, serta preferensi konsumen secara mendalam.
Strategi pricing yang didukung data akan membantu brand FMCG tetap kompetitif dan berkelanjutan di tengah konsumen yang semakin sensitif harga. Hubungi kami untuk mendapatkan informasi lengkap tentang layanan Market Research Populix!

Baca juga: Pahami Perilaku Konsumen Industri FMCG dengan Riset Pasar
IDN
ENG