Bagi banyak mahasiswa pascasarjana dan dosen, memahami cara mencari jurnal di Scopus telah menjadi kebutuhan mendesak untuk memenuhi syarat kelulusan maupun kenaikan jenjang akademik.
Meski penting, tantangan terbesar peneliti sering kali bukan terletak pada proses menulis manuskrip, melainkan pada ketidaktahuan mengenai cara mencari jurnal yang benar, kredibel, dan tepat sasaran di dalam database internasional tersebut. Tanpa strategi yang efektif dalam cara mencari jurnal, risiko salah pilih publikasi atau terjebak jurnal predator pun semakin besar.
Memahami strategi pencarian jurnal tidak hanya mempercepat proses publikasi, tetapi juga memastikan bahwa riset Anda dipublikasikan di platform yang kredibel.
Artikel ini akan membahas langkah teknis dan strategis dalam menemukan jurnal Scopus yang sesuai dengan bidang penelitian Anda.
Apa Itu Scopus dan Mengapa Penting untuk Penelitian Akademik?
Scopus adalah salah satu database literatur ilmiah (jurnal, buku, dan prosiding konferensi) terbesar di dunia yang mencakup berbagai bidang ilmu seperti teknologi, kedokteran, ilmu sosial, hingga seni.
Mengapa Scopus menjadi sangat penting? Berikut beberapa alasannya:
- Standar Akademik Tinggi: Scopus sering kali menjadi standar utama bagi mahasiswa S2, S3, serta publikasi dosen untuk mencapai syarat kelulusan atau jabatan fungsional.
- Kualitas dan Kredibilitas: Jurnal yang masuk dalam indeks Scopus telah melalui proses kurasi yang ketat, sehingga menjadi indikator kualitas dan kredibilitas sebuah riset.
- Visibilitas Global: Dengan terindeks di Scopus, karya ilmiah Anda memiliki peluang lebih besar untuk dibaca dan disitasi oleh peneliti lain di seluruh dunia.
Baca juga: 5 Cara Menentukan Universitas S2 dengan Tepat, Ini Tipsnya!
Apa yang Dimaksud Jurnal Terindeks Scopus?

Jurnal terindeks Scopus adalah jurnal ilmiah yang secara resmi telah melewati proses seleksi oleh Content Selection and Advisory Board (CSAB) Scopus. Proses seleksi ini mencakup penilaian terhadap kualitas editor, konsistensi publikasi, hingga dampak sitasi jurnal tersebut.
Perbedaan utama antara jurnal Scopus dengan jurnal non-Scopus terletak pada standar peer-review dan reputasi globalnya. Jurnal Scopus dianggap memiliki standar ilmiah yang lebih tinggi dibandingkan jurnal yang belum terindeks di database internasional bereputasi.
Cara Mencari Jurnal di Scopus Secara Efektif
Agar proses riset Anda lebih efisien, penting bagi setiap peneliti untuk memahami langkah-langkah teknis yang tepat. Berikut adalah panduan praktis mengenai cara mencari jurnal di scopus untuk mendapatkan referensi yang kredibel dan sesuai dengan standar publikasi internasional.
1. Menggunakan Website Resmi Scopus
Langkah paling valid adalah dengan mengunjungi langsung situs resmi di scopus.com. Anda bisa masuk ke menu Sources untuk melihat daftar lengkap jurnal yang saat ini masih aktif terindeks.
2. Mencari Jurnal Berdasarkan Topik Penelitian
Gunakan fitur pencarian berdasarkan Subject Area. Misalnya, jika riset Anda mengenai “Sustainable Energy,” Anda bisa menyaring hasil pencarian agar hanya menampilkan jurnal-jurnal yang fokus pada rumpun ilmu tersebut.
3. Menyaring Jurnal Berdasarkan Quartile (Q1-Q4)
Scopus memiliki sistem pemeringkatan jurnal berdasarkan pengaruhnya dalam bidang tertentu. Anda bisa memfilter pencarian untuk menemukan jurnal dengan peringkat tertentu sesuai dengan kebutuhan syarat publikasi Anda.
Memahami Perbedaan Scopus Q1, Q2, Q3, dan Q4
Apa Itu Quartile dalam Scopus?
Quartile (Q) adalah sistem pengelompokan kualitas jurnal berdasarkan posisi persentilnya dalam kategori bidang ilmu yang sama. Peringkat ini diperbarui setiap tahun oleh Scopus melalui SJR (Scimago Journal Rank) untuk mencerminkan performa terbaru dari setiap publikasi.
Karakteristik Jurnal Scopus Q1 dan Q2
Jurnal dalam kategori Q1 dan Q2 adalah kelompok jurnal dengan pengaruh tertinggi (top 25% dan 25-50%).
Karakteristik utamanya adalah proses review yang sangat ketat, tingkat penolakan (rejection rate) yang tinggi, namun memiliki kredibilitas yang sangat prestisius di mata dunia akademik.
Karena reputasinya, publikasi di peringkat ini sering menjadi syarat utama untuk kenaikan jabatan guru besar atau pemenuhan hibah riset internasional.
Karakteristik Jurnal Scopus Q3 dan Q4
Kelompok Q3 dan Q4 (50-75% dan bawah 25%) biasanya menjadi pilihan bagi peneliti pemula atau mahasiswa yang sedang memulai publikasi internasional pertama mereka.
Meski tingkat kompetisinya tidak seberat Q1, jurnal-jurnal ini tetap memiliki standar kualitas yang diakui secara internasional.
Jurnal di kategori ini sangat ideal sebagai sarana belajar bagi peneliti untuk memahami alur publikasi global sebelum menargetkan jurnal di peringkat yang lebih tinggi.
Baca juga: 7 Alasan Pentingnya Akreditasi Universitas S2 di Indonesia!
Tantangan Peneliti Setelah Menemukan Jurnal Scopus

Menemukan nama jurnal hanyalah langkah awal. Tantangan selanjutnya yang sering dihadapi peneliti meliputi:
- Validasi topik penelitian: Apakah topik Anda benar-benar sesuai dengan aims and scope jurnal tersebut?
- Kebutuhan data yang kuat: Jurnal Scopus menuntut argumentasi yang didukung oleh data riset yang kredibel dan relevan.
- Kredibilitas Riset: Tanpa data primer atau sekunder yang valid, kemungkinan manuskrip Anda ditolak oleh editor sangatlah besar.
Dukung Riset Akademik dengan Data yang Tepat Bersama PopSurvey by Populix
Selain strategi mencari jurnal, kunci sukses publikasi di Scopus adalah memiliki data riset yang berkualitas. Manuskrip yang didasarkan pada data yang valid dan segar memiliki peluang lebih besar untuk diterima oleh reviewer jurnal internasional.
PopSurvey by Populix hadir sebagai solusi survei online bagi mahasiswa S2, S3, dosen, dan akademisi untuk mendapatkan data primer secara cepat dan akurat.
Dengan akses ke responden yang tersegmentasi dan efisiensi waktu pengambilan data, Anda dapat fokus pada analisis dan penulisan jurnal tanpa harus terkendala validitas data.
Optimalkan riset Anda sekarang dengan dukungan data terbaik bersama PopSurvey by Populix.

Baca juga: 7 Kendala Menentukan Kampus Pascasarjana S2 dan Solusinya
IDN
ENG