Pentingnya Sikap Asertif dalam Komunikasi, Begini Caranya
Populix

Pentingnya Sikap Asertif dalam Komunikasi, Begini Caranya

4 tahun yang lalu 5 MENIT MEMBACA

Jika Anda sering merasa kesulitan mengungkapkan pendapat, mungkin asertif adalah perilaku yang perlu Anda pelajari. Perasaan memendam untuk menyampaikan pendapat kepada tim atau rekan kerja ini memang terkadang muncul, sebab kita khawatir akan menyakiti perasaan mereka.

Namun, ada kalanya Anda harus mengungkapkannya terlebih jika itu berkaitan dengan kebaikan bersama. Oleh karenanya, berikut akan Populix bahas tentang bagaimana cara melakukan sikap asertif dalam berkomunikasi.

Apa itu asertif?

Sebagian dari Anda mungkin belum pernah mendengar apa itu asertif. Pada dasarnya, sikap asertif adalah sebuah keterampilan berkomunikasi. Skill ini meliputi kemampuan berbicara dengan tegas, lugas, jujur, namun tetap mampu menghormati atau menghargai orang lain.

Dengan begitu, Anda dapat meningkatkan rasa percaya diri, mengekspresikan pendapat secara efektif, sekaligus menghindari konflik. Adapun contoh perilaku asertif adalah sebagai berikut.

  • “Saya berpendapat…, bagaimana pendapat Anda?”
  • “Saya akan selesaikan masalah tersebut dengan cara ini. Bagaimana menurut Anda?”

Perlu diketahui bahwa sikap asertif adalah perilaku yang tidak pasif maupun agresif. Sebab, orang pasif biasanya menghindari konflik dan bersifat pemalu, sehingga mendorong pihak lain mengabaikan kebutuhan Anda. Sementara, sikap agresif cenderung mengintimidasi, mengabaikan perasaan, kebutuhan, atau pendapat orang lain.

Kedua perilaku tersebut akan menimbulkan hal-hal negatif bagi diri Anda. Contohnya ketika Anda diminta mengerjakan proyek baru, padahal tugas sebelumnya sudah terlalu banyak dan menumpuk. Namun, karena tidak berani menolak, akibatnya mau tidak mau Anda harus bekerja lembur.

Bila dibiarkan, sikap pasif tersebut akan menyebabkan konflik internal, seperti rasa marah, tertekan, atau bahkan kebencian. Sedangkan, perilaku agresif membuat Anda cenderung mementingkan ego dan tidak menghargai lawan bicara. Sehingga, hal ini menjadikan Anda mudah dibenci.

Namun, dengan perilaku asertif, Anda bisa membangun relasi yang harmonis di lingkungan kerja. So, dari penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa asertif artinya strategi berkomunikasi secara tegas dan terbuka namun tetap menjaga rasa hormat kepada orang lain.

Indikator perilaku asertif

Sikap asertif artinya bukan hanya sekedar berbicara tegas dan jujur saja. Terdapat ciri-ciri lain yang menandakan seseorang memilikinya. Adapun indikator perilaku asertif adalah sebagai berikut.

  • Tidak mengintimidasi lawan bicara
  • Mampu menyampaikan pendapat dengan tegas
  • Mampu berkata ‘tidak’ tanpa merasa bersalah
  • Mampu mengungkapkan secara terbuka apa yang dirasakan
  • Mampu mengatakan kebutuhan maupun keinginan dengan jelas
  • Mampu menyampaikan ketidaksetujuan dengan cara yang baik
  • Mampu memberi saran atau ide kepada lawan bicara
  • Mampu mewakili orang lain untuk bicara

Manfaat komunikasi asertif

Sikap asertif adalah keterampilan komunikasi yang sangat penting dalam dunia kerja. Bukan tanpa alasan, perilaku ini nyatanya dapat memberikan banyak manfaat bagi diri Anda. Adapun manfaat komunikasi asertif adalah sebagai berikut.

  • Melancarkan komunikasi.
  • Meningkatkan percaya diri dan lebih menghargai diri sendiri.
  • Lebih menghormati hak dan pendapat lawan bicara
  • Lebih memahami perasaan diri sendiri maupun lawan bicara
  • Lebih puas dalam melakukan pekerjaan.
  • Menciptakan hubungan yang menguntungkan semua pihak.
  • Mampu mengatasi stres atau beban tanggung jawab
  • Mencegah Anda dimanfaatkan oleh orang lain
  • Menghindari tindakan yang mengganggu lawan bicara

Baca juga: Apa Itu Public Speaking? Kenali Cara dan Manfaatnya!

Cara mempelajari skill asertif dalam berkomunikasi

Setelah memahami pengertian asertif dan contohnya, lalu bagaimanakah cara menerapkan skill tersebut? Well, Anda tentu perlu memperhatikan teknik berkomunikasi Anda selama ini. Agar tidak bingung, berikut cara mempelajari perilaku asertif yang bisa Anda coba.

1. Kenali dan pahami diri sendiri

Hal pertama yang bisa Anda lakukan dalam mempelajari sikap asertif adalah mengenali diri sendiri. Yup, penting sekali untuk menilai dan memahami diri terlebih dahulu, apakah Anda termasuk agresif, pasif, atau bahkan keduanya.

Setelah itu, Anda dapat melakukan perubahan ke arah yang lebih baik dengan cara memahami serta menghargai kapasitas diri. Hal tersebut berguna untuk meningkatkan rasa percaya diri sehingga Anda mampu membela hak maupun melindungi batasan yang dimiliki.

2. Berlatih mengatakan ‘tidak’

Salah satu indikator perilaku asertif adalah berani mengatakan ‘tidak’, terutama pada hal-hal yang kurang disukai atau mungkin memberatkan Anda. Meski terkadang sulit dilakukan, namun hal ini wajib Anda latih dan terus dibiasakan untuk menghindari menjadi people pleaser.

Cobalah untuk selalu berterus terang terkait kebutuhan maupun batasan Anda, sehingga orang lain bisa memahami alasan di balik penolakan tersebut. Dengan begitu, Anda pun tidak perlu merasa bersalah.

3. Gunakan kata ‘saya’ saat berpendapat

Meski terdengar sepele, namun penggunaan kata ‘saya’ ketika menyampaikan pendapat bisa membantu lawan bicara memahami pemikiran Anda tanpa terkesan menuduh. Contoh perilaku asertif ini misalnya ketika Anda tidak menyetujui suatu hal. Coba awali dengan “saya pikir ini kurang tepat, karena…”, dibanding mengatakan “Anda salah”.

4. Gunakan bahasa tubuh yang baik

Cara berikutnya untuk bersikap asertif adalah dengan menggunakan bahasa tubuh yang baik. Pasalnya, ini merupakan salah satu indikator penting dalam membangun komunikasi dengan lawan bicara. Misalkan, melakukan kontak mata, postur tubuh tegak, ekspresi wajah positif, serta menghindari menyilangkan lengan atau kaki.

5. Kendalikan emosi

Hal yang perlu Anda latih dalam menerapkan sikap asertif adalah mengendalikan emosi. Apalagi jika sedang dalam situasi kurang baik, Anda mungkin akan merasa kesal, marah, atau ingin menangis.

Meski normal, akan tetapi hal tersebut sebetulnya dapat mengganggu penyelesaian masalah. Sehingga, berusahalah untuk selalu mengendalikan emosi dengan menjaga intonasi suara dan bersikap tenang ketika menghadapi konflik.

6. Win-win solution

Contoh perilaku asertif yang baik adalah mampu menghasilkan kesepakatan dengan memenuhi kebutuhan atau menguntungkan semua pihak (win-win solution). Untuk itu, lakukanlah kompromi bersama orang lain guna menemukan solusi bagi sesama.

Penting juga mendengarkan baik-baik apa yang disampaikan lawan bicara, lho. Di samping menyimak, jangan takut bertanya agar Anda dapat memahami sudut pandang lawan bicara.

7. Latihan berbicara

Cara terakhir yang bisa Anda gunakan untuk mempelajari sikap asertif adalah dengan melatihnya. Sebab, ketika menyampaikan pendapat, Anda tentu harus pintar-pintar memilih kalimat agar tidak menyinggung lawan bicara. Misalkan, daripada berkata “Pendapatmu tidak benar”, lebih baik mengatakan “Saya kurang setuju dengan pendapat Anda”.

Anda bisa coba belajar berbicara di hadapan cermin. Selain menumbuhkan kepercayaan diri, tips ini juga dapat membantu Anda melatih ekspresi wajah dan bahasa tubuh.

Demikianlah penjelasan mengenai sikap asertif untuk dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari. Asertif adalah skill yang penting dimiliki, sebab kita bisa mengungkapkan suatu pendapat dengan tegas, tenang, tanpa menyakiti perasaan orang lain.

Baca juga: Apa itu Soft Skill? Ini 10 Contoh dan Bedanya dari Hard Skill

Tags:
Artikel Terkait
Jurnal Ilmiah: Pengertian, Tujuan, dan Jenis
Mungkin Anda sudah tidak asing dan sering mendengar tentang jurnal ilmiah. Jurnal ilmiah adalah bentuk publikasi akademik hasil penelitian ilmiah tentang topik atau disiplin ilmu tertentu. Mengutip laman Imaginated, pada pertengahan abad ke-17 London, The Royal Society of London didirikan dengan tujuan bahwa tidak ada pengetahuan ilmiah yang akan diterima sampai dapat diverifikasi. Susunan umum […]
Transportasi Umum untuk Ibu Hamil, Sudahkah Sesuai Harapan?
Sangat wajar jika muncul rasa khawatir ketika harus naik transportasi umum dalam kondisi hamil. Hal ini karena kualitas sejumlah transportasi umum untuk ibu hamil dianggap belum cukup baik. Anggapan tersebut sesuai dengan hasil jajak pendapat yang dilakukan oleh Populix melalui survei online pada 20-26 September 2024. Sebanyak 73% responden menganggap bahwa transportasi umum atau publik […]
Objek Penelitian: Pengertian, Cara Menentukan, Contoh
Dalam setiap penelitian, tentu ada objek yang diteliti. Objek penelitian adalah hal, perkara, dan sebagainya, yang dijadikan sasaran untuk diteliti. Sering kali objek terkait erat dengan topik yang menjadi fokus dari sebuah penelitian. Pun terkait hal yang diteliti, dianalisis, dan dijelaskan oleh para peneliti untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang topik tertentu. Apa Itu […]