Operator Internet di Masa Pandemi, Siapa yang Paling Diminati?
Populix

Operator Internet di Masa Pandemi, Siapa yang Paling Diminati?

4 tahun yang lalu 4 MENIT MEMBACA

Masyarakat Indonesia semakin lekat dengan internet. Penetrasi internet di Indonesia semakin tumbuh seiring berbagai program pengadaan jaringan internet semakin gencar dilakukan pemerintah.

Pada 2016, pemerintah meluncurkan program pembangunan infrastruktur telekomunikasi bernama Palapa Ring. Program pembangunan serat optik sepanjang 36.000 kilometer itu diklaim mampu memberikan akses internet pada 440 Kabupaten dan Kota, dari Sumatera hingga Papua. Kecepatan internet Palapa Ring juga diklaim dapat tembus 40 Mbps.

Proyek Palapa Ring sendiri telah rampung pada Agustus 2019 dan membawa harapan baru untuk akses internet merata di seluruh wilayah Indonesia. Di sisi lain, penggunaan internet yang semakin masif membuat penyedia layanan telekomunikasi ikut terdorong maju.

Penetrasi Internet Melonjak, Persaingan Operator Internet Semakin Ketat

Pada tahun 2020 ini, masyarakat Indonesia dihadapkan pada tantangan untuk tetap terhubung meski terpisah jarak. Pandemi rupanya membawa budaya baru pada digitalisasi di banyak sektor, termasuk pendidikan.

Pandemi Covid-19 memaksa seluruh tetap beraktivitas dengan normal meski tidak bertatap muka. Agar bisa tetap terkoneksi satu sama lain, melejitnya popularitas aplikasi video conference menunjukan digitalisasi di masa pandemi terasa begitu nyata. Sejalan dengan itu, kebutuhan akan layanan internet pun melonjak.

Penyedia layanan internet atau Internet Service Provider (ISP) pun merasakan dampaknya. Hingga 2019 saja, sebanyak 450 perusahaan penyedia layanan internet terdaftar di Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII). Hal ini menunjukan kebutuhan akses internet yang tinggi berbanding lurus dengan pertumbuhan penyedia layanan internet.

Operator dengan Harga Miring Diminati Pelajar

Meski jumlahnya mencapai ratusan, rupanya hanya sebagian kecil perusahaan yang berhasil menggaet pengguna dengan jumlah besar di Indonesia. Temuan itu didapat setelah Populix menggelar survei pasar pada pengguna internet Indonesia. Survei Populix kali ini mengajak 141 pelajar dan 203 pekerja untuk melihat tren layanan internet yang dipakainya.

Populix coba mengklasifikasikan pengguna operator telekomunikasi untuk internet berdasarkan status pekerjaannya, yakni pelajar dan pekerja. Terdapat perbedaan mendasar, yakni pilihan layanan internet, yang dipilih dua kalangan ini.

Kalangan pelajar lebih nyaman dengan layanan dari 3 (Tri) sebagai operator internet yang dipakainya sehari-hari. 3 (Tri) digunakan 25% responden kalangan pelajar, disusul dengan Telkomsel, Indosat Ooredoo, dan XL.

Telkomsel Populer di Kalangan Pekerja

Paket kuota internet yang lebih mahal bukan menjadi perkara besar bagi kalangan pekerja untuk memilih layanan internet Telkomsel. Perusahaan di bawah naungan Telkom Indonesia ini berhasil merajai ketersediaan internet di kalangan pekerja. Telkomsel unggul dengan perolehan suara mencapai 34%. Dengan selisih yang terpaut cukup jauh, ada nama Indosat Ooredoo dan 3 (Tri) yang dipilih 21%.

Untuk menunjang bekerja maupun belajar di rumah, internet juga dibutuhkan untuk mengakses aplikasi video call atau video conference untuk berkomunikasi dengan teman, guru, dan rekan kera. Dominasi Zoom sebagai aplikasi video conference juga dijumpai pada survei ke kalangan pekerja. Zoom mendapat suara hingga 45% dan unggul di segala kalangan usia responden.

Sementara itu posisi kedua diisi oleh WhatsApp Call yang dipilih 35% responden. Munculnya nama WhatsApp di posisi kedua ini tidak lepas dari pembaharuan aplikasi tersebut dalam menyediakan video conference dengan lebih banyak peserta. Pada Agustus tahun ini, WhatsApp sudah resmi meluncurkan fitur Messenger Room yang mampu menampung 50 peserta video conference sekaligus.

Berapa Dana yang Dikeluarkan untuk Bisa Tetap Terkoneksi?

Aktivitas bekerja yang dialihkan menjadi daring membuat anggaran dana masyarakat untuk membeli paket internet semakin membengkak. Kalangan pelajar maupun pekerja, menurut survei pasar ini, sama-sama mengalami kenaikan belanja paket internet

Pada masa new normal, rata-rata uang yang harus dikeluarkan pelajar untuk membeli paket internet mencapai Rp 71.986. Angka ini mengalami kenaikan setelah diberlakukannya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) tahap dua sehingga total belanja paket internet per bulan kalangan pelajar menjadi Rp 82.181.

Dana yang lebih besar rupanya harus dirogoh kalangan pekerja agar bisa memenuhi tuntutan pekerjaan di rumah. Rata-rata, Sebanyak Rp 112.623 dihabiskan kalangan pekerja untuk membeli paket internet. Angkanya naik tipis setelah PSBB tahap 2 berlaku dengan rata-rata dana mencapai Rp 114.655.

Internet memegang peran yang cukup krusial selama work from home maupun Pembelajaran Jarak Jauh karena semuanya dikerjakan secara online. Sebagus dan secanggih apapun komputer dan software yang digunakan, jika koneksi internet tidak stabil, maka efektivitas pekerjaan tidak bisa maksimal.

Semakin majunya perkembangan teknologi Internet, diharapkan dapat meningkatkan produktivitas kerja maupun Pembelajaran Jarak Jauh.

Artikel Terkait
Populix and Chill — Pentingnya Kenyamanan Bekerja
Perpindahan tempat kerja dari corporate agency ke startup adalah salah satu hal besar yang terjadi dalam hidupku. Awalnya tidak ada harapan apa-apa saat aku masuk ke Populix. Namun, perlahan aku mulai merasakan banyak kenyamanan bekerja sejak bergabung menjadi Popcrew (this is how we call ourselves!). Bicara soal pentingnya kenyamanan bekerja, tentunya tidak terlepas dari budaya […]
Pemicu Utama Start Up Melakukan Pivot Bisnis
Dunia start up bergerak dengan sangat dinamis. Ada start up yang mampu menggaet konsumen dalam waktu singkat. Di sisi lain, perjalanan panjang harus ditempuh beberapa start up hingga produknya diterima oleh pasar. Promosi produk di media sosial, menawarkan potongan harga, dan ratusan strategi lain telah dilakukan. Sayangnya, berbagai upaya tersebut terkadang tidak membuahkan hasil yang […]
Analysis of Covariance (ANCOVA), Ini Penjelasan Lengkapnya
Analysis of Covariance (ANCOVA) atau analisis kovarian merupakan bentuk lanjutan dari Analysis of Variance (ANOVA) atau analisis varian. Melansir laman Research Connections, ANOVA digunakan untuk menguji perbedaan rata-rata dua kelompok atau lebih, sedangkan ANCOVA menghilangkan pengaruh satu atau lebih variabel kontinu sebelum menguji perbedaan kelompok. Apa Itu Analysis of Covariance (ANCOVA)? Analisis kovarian adalah metode […]