Begini Tren Investasi di Indonesia Menurut Data Survei Populix
Populix

Begini Tren Investasi di Indonesia Menurut Data Survei Populix

3 tahun yang lalu 4 MENIT MEMBACA

Keadaan yang tidak menentu akibat kehadiran COVID-19 berpengaruh pada banyak aspek kehidupan, termasuk juga tren investasi di Indonesia.

Dengan adanya pandemi, banyak orang yang menjadi lebih sadar melakukan financial planning melalui investasi, seperti untuk pemasukan tambahan, kebutuhan darurat, dan tujuan lainnya.

Pada akhir Oktober 2022, Populix telah melakukan survei untuk melihat bagaimana tren investasi Indonesia di masa mendatang. Simak pembahasannya dalam paparan berikut!

Perkembangan Tren Investasi di Indonesia

Survei tren investasi 2022 yang dilakukan oleh Populix melibatkan 1.038 responden di seluruh Indonesia dengan persentase 51% adalah laki-laki dan 49% perempuan dari berbagai profesi serta status ekonomi. 

Para responden tersebut dibagi ke dalam tiga kelompok demografi, yaitu Gen Z (rentang usia 18–25 tahun), Generasi Milenial (26-45 tahun), dan Gen X (46-55 tahun).

Menurut data Populix, sebesar 72% responden sudah berinvestasi. Angka tersebut mengalami peningkatan jika dibandingkan dengan survei Populix di tahun 2021 yang menyatakan bahwa hanya ada 44% responden saja sudah berinvestasi.

Adapun data mengenai perkembangan tren investasi terkini di Indonesia menurut temuan survei Populix antara lain adalah sebagai berikut:

1. Produk Investasi

Terkait dengan produk pilihan, survei tren investasi di Indonesia tahun ini masih menunjukkan hasil yang sama untuk Gen Z dengan tahun sebelumnya.

Di tahun 2022, reksa dana tetap digemari oleh 55% Gen Z karena masih dianggap cocok untuk investor pemula dengan modal yang tidak terlalu besar dan memiliki resiko rendah.

Sedangkan sebesar 46% Generasi Milenial dan 60% Gen X di tahun ini cenderung memilih emas perhiasan.

Adapun pertimbangan responden dalam memilih produk investasi pada umumnya dipengaruhi dua hal, yakni legalitas dan risikonya.

Baca juga: 5 Tips Melindungi Bisnis di Masa Covid-19

2. Tujuan Investasi

Temuan Populix berikutnya dalam survei tren investasi di Indonesia menyatakan bahwa 64% tujuan responden berinvestasi adalah untuk menyiapkan dana darurat.

Sementara itu, Generasi Milenial lebih cenderung berinvestasi untuk mempersiapkan rencana pensiun dan dana pendidikan anak daripada Gen Z.

3. Sumber Dana Investasi

Temuan Populix selanjutnya dalam survei tren investasi di Indonesia menunjukkan bahwa sumber dana 54% responden untuk berinvestasi berasal dari penghasilan bulanan dan tabungan.

Umumnya, responden mengalokasikan dana mereka sebesar Rp100.000-Rp250.000 dari pendapatan dan uang simpanan tersebut.

Adapun sebagian besar responden juga menggunakan pendapatan lainnya sekitar 5%-10% untuk berinvestasi.

4. Platform Investasi

Dalam hal platform yang digunakan, sebanyak 71% responden memilih berinvestasi melalui aplikasi investasi, khususnya Bibit. 

Ini sama seperti tahun sebelumnya, di mana aplikasi Bibit masih menjadi unggulan bagi sebagian besar responden.

Sedangkan responden yang lebih gemar berinvestasi melalui bank, kebanyakan memilih BRI, BCA, Bank Mandiri, dan BNI untuk kegiatan tersebut.

Keputusan responden untuk memilih platform investasi dipengaruhi oleh beberapa hal, di antaranya yaitu kemudahan dalam satu aplikasi, persyaratan yang tidak rumit, dan hanya membutuhkan modal kecil.

Di sisi lain, bank lebih disukai untuk investasi karena tingkat kredibilitasnya, kemudahan penggunaan, dan persyaratan yang tidak rumit.

Baca juga: Mengenal Investasi Syariah dan 3 Jenis Terbaik untuk Pemula

5. Rencana Investasi

Temuan terakhir Populix dalam survei tren investasi Indonesia yaitu mengenai rencana investasi di masa depan, di mana 95% responden sudah berencana untuk berinvestasi pada masa mendatang.

Dalam hal ini, produk yang mereka pilih adalah investasi emas batangan (49%), emas perhiasan (42%), dan saham (42%).

Sementara itu, alasan mayoritas responden yang tidak ingin menginvestasikan uang mereka adalah karena pendapatannya tidak mencukupi.

Di sisi lain, responden berpikir bahwa mereka membutuhkan dana yang cukup besar untuk mulai berinvestasi dan takut mengambil risiko.

Demikian penjelasan mengenai hasil survei tren investasi di Indonesia yang dilakukan oleh Populix. 

Dapat disimpulkan bahwa terjadi perubahan positif dari responden terkait dengan kegiatan investasi.

Dalam hal ini, kesadaran akan literasi finansial mereka semakin meningkat, terutama dalam rangka menyiapkan dana untuk keperluan darurat.

Hal tersebut tentunya sangatlah penting, mengingat pandemi COVID-19 yang masih mengalami peningkatan maupun penurunan secara tidak pasti dan sangat memengaruhi kondisi finansial masyarakat Indonesia.

Bagi Anda yang masih ingin menjelajahi kumpulan data terbaru seputar perilaku konsumen dan lanskap industri, kunjungi laman laporan Populix sekarang!

Baca juga: Cara Pengelolaan Keuangan yang Baik dan Mudah, Ini Formulanya

Artikel Terkait
Apa Itu Konsumtif? Cari Tahu Contoh dan Dampaknya!
Konsumtif adalah kecenderungan untuk menghamburkan uang tanpa memikirkan tujuan dan manfaatnya. Dapat diperhatikan di situasi sekarang, masyarakat seakan tidak memperdulikan cara mengelola uang dengan baik karena maraknya online marketplace yang mendorong terjadinya transaksi digital secara rutin. Perilaku konsumtif adalah perilaku yang berbahaya untuk dimiliki karena jika dilakukan dalam kurun waktu lama akan berdampak pada kondisi […]
Second-Hand Clothing, A Trend That Has a Positive Effect
Thrifting or second-hand clothing is awesome nowadays. The term “thrift” comes from English, which means savings. This term can be used as another alternative for people who want to save money but still want to look stylish. Thrift items are used goods that are still suitable for use and are offered at a more affordable price.  Modern […]
Panduan Membuat Pertanyaan Survei Skripsi yang Netral
Pertanyaan survei merupakan elemen penting dalam penyusunan kuesioner skripsi yang sering kali masih menjadi kendala bagi mahasiswa. Banyak yang merasa kesulitan merumuskan pertanyaan yang tepat, sehingga data yang diperoleh berisiko tidak valid atau bahkan menimbulkan bias. Salah satu penyebab utamanya adalah pertanyaan yang dibuat terlalu rumit, ambigu, atau justru mencerminkan opini pribadi peneliti. Jika hal […]