10 Customer Pain Points Otomotif, Dapat Menghambat Pembelian
Populix

10 Customer Pain Points Otomotif, Dapat Menghambat Pembelian

1 hari yang lalu 5 MENIT MEMBACA

Customer pain points dalam pembelian kendaraan baru bisa muncul di berbagai tahap customer journey, mulai dari pencarian informasi hingga penerimaan unit. Memahami pain points ini penting bagi brand otomotif untuk meningkatkan pengalaman pelanggan dan mempercepat proses pembelian.

Terlebih di tengah persaingan industri otomotif yang semakin ketat, pengalaman pelanggan menjadi faktor pembeda yang signifikan. Dengan demikian, brand yang mampu mengatasi customer pain points akan lebih unggul dalam membangun loyalitas dan reputasi positif.

10 Customer Pain Points dalam Pembelian Kendaraan Baru yang Sering Dialami

Customer Pain Points
Source: Freepik

Pembelian kendaraan baru bukan hanya soal harga dan spesifikasi, tetapi juga tentang pengalaman pelanggan di setiap tahap perjalanan pembelian. Di sinilah customer pain points berperan penting karena dapat memengaruhi keputusan konsumen untuk melanjutkan atau membatalkan pembelian.

Mulai dari proses kredit, inden kendaraan, transparansi biaya, hingga pengalaman test drive, setiap touchpoint berpotensi menciptakan friksi bagi konsumen. Mengidentifikasi customer pain points secara detail membantu brand otomotif merancang customer journey yang lebih efisien dan customer-centric.

Berikut ini daftar pain points paling umum dalam pembelian kendaraan baru yang perlu diperhatikan oleh brand dan dealer otomotif.

1. Informasi Harga yang Tidak Konsisten

Pain points sering muncul saat konsumen menemukan perbedaan harga antara website resmi, dealer, dan marketplace. Ketidakkonsistenan ini menurunkan kepercayaan dan membuat konsumen ragu untuk melanjutkan proses pembelian.

Kurangnya penjelasan tentang komponen harga juga membuat konsumen sulit memahami total biaya.
Transparansi harga menjadi faktor krusial dalam tahap awal customer journey.

2. Spesifikasi Produk yang Sulit Dipahami

Banyak konsumen merasa spesifikasi teknis kendaraan terlalu kompleks dan tidak disajikan secara user-friendly. Hal ini menjadi pain points bagi pembeli awam yang tidak familiar dengan istilah teknis otomotif.

Konten edukatif yang minim juga memperpanjang proses pengambilan keputusan. Konsumen membutuhkan perbandingan yang jelas antar model kendaraan.

3. Proses Kredit yang Rumit dan Lama

Proses kredit merupakan salah satu pain points terbesar dalam pembelian kendaraan baru. Banyak calon pembeli merasa proses ini terlalu birokratis dan memakan waktu.

Persyaratan dokumen yang banyak dan berbeda antar lembaga pembiayaan menambah friksi. Ketidakjelasan status pengajuan kredit juga menurunkan kepuasan pelanggan.

4. Kurangnya Transparansi Simulasi Cicilan

Customer pain points juga muncul ketika simulasi cicilan tidak dijelaskan secara detail. Konsumen sering merasa bingung dengan bunga, tenor, dan biaya tambahan yang tidak transparan.

Gap antara simulasi awal dan realisasi cicilan dapat menurunkan trust terhadap brand. Dashboard simulasi yang interaktif dapat membantu mengurangi friksi ini.

5. Waktu Inden yang Tidak Pasti

Inden kendaraan yang lama dan tidak pasti menjadi pain points yang sangat umum. Konsumen merasa frustrasi ketika tidak mendapatkan kepastian waktu pengiriman unit.

Kurangnya update status inden dari dealer memperburuk pengalaman pelanggan. Komunikasi proaktif sangat penting untuk mengelola ekspektasi konsumen.

Baca juga: 10 Digital Touchpoints dalam Customer Journey Otomotif

6. Transparansi Biaya OTR yang Minim

Customer pain points sering muncul karena biaya tambahan tidak dijelaskan sejak awal. Pajak, administrasi, dan aksesoris sering menambah biaya akhir di luar ekspektasi konsumen.

Promo dan diskon yang tidak dijelaskan syaratnya juga menimbulkan persepsi negatif. Konsumen membutuhkan breakdown biaya yang jelas dan mudah dipahami.

7. Pengalaman Test Drive yang Kurang Optimal

Test drive merupakan touchpoint penting, tetapi juga sering menjadi pain points. Proses booking yang tidak fleksibel dan unit terbatas membuat konsumen kecewa.

Pendampingan sales yang terlalu agresif juga dapat mengurangi kenyamanan konsumen. Pengalaman test drive yang personal dapat meningkatkan peluang konversi.

8. Interaksi Sales yang Terlalu Transaksional

Pain points muncul ketika sales tidak memahami kebutuhan pelanggan secara mendalam. Pendekatan yang terlalu fokus pada penjualan dapat membuat konsumen merasa tidak didengar.

Respons yang lambat di berbagai kanal komunikasi juga menurunkan kualitas pengalaman pelanggan. Konsistensi informasi antar sales menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan.

9. Pengalaman Digital yang Tidak Seamless

Transformasi digital menciptakan pain points baru bagi konsumen otomotif. Website yang lambat dan tidak user-friendly menghambat eksplorasi kendaraan.

Kurangnya fitur konfigurator kendaraan dan simulasi cicilan digital juga menambah friksi. Integrasi data online dan offline yang buruk membuat konsumen harus mengulang informasi.

10. Customer Journey yang Tidak Terintegrasi

Pain points muncul ketika touchpoint online dan offline tidak terkoordinasi. Konsumen mengharapkan pengalaman omnichannel yang seamless dari riset hingga pembelian.

Ketidaksinambungan data antara digital platform dan dealer fisik menurunkan persepsi profesionalisme brand. Customer journey mapping berbasis data menjadi solusi strategis untuk mengatasi masalah ini.

Mengapa Customer Pain Points Harus Menjadi Fokus Strategi Brand Otomotif?

Customer Pain Points
Source: Freepik

Customer pain points yang tidak ditangani dapat memperpanjang sales cycle dan menurunkan conversion rate. Konsumen yang frustrasi cenderung menunda pembelian atau berpindah ke brand lain.

Pengalaman negatif juga dapat menyebar melalui review online dan word-of-mouth. Hal ini dapat berdampak signifikan pada reputasi brand dalam jangka panjang.

Selain itu, dapat juga menjadi peluang inovasi layanan dan diferensiasi produk. Brand yang customer-centric memiliki peluang lebih besar untuk memenangkan pasar.

Strategi Mengatasi Customer Pain Points dalam Pembelian Kendaraan

Brand dapat menyederhanakan proses kredit melalui digital onboarding dan pre-approval. Transparansi biaya dapat ditingkatkan dengan kalkulator harga digital yang real-time.

Komunikasi proaktif mengenai inden dan tracking status pengiriman unit dapat meningkatkan kepuasan pelanggan. Pengalaman test drive dapat dioptimalkan melalui booking online dan personalisasi rute.

Pelatihan sales dengan pendekatan consultative selling dapat mengurangi friksi interaksi pelanggan.
Integrasi omnichannel data juga penting untuk menciptakan pengalaman yang seamless.

Baca juga: Strategi Pemasaran Brand Otomotif Berbasis Market Research!

Lakukan Customer Journey Pain Point Analysis dengan Market Research Populix

Mengidentifikasi customer pain points secara akurat membutuhkan pendekatan riset yang terstruktur dan berbasis data. Market Research Populix dapat membantu brand otomotif memetakan friksi di setiap tahap customer journey secara komprehensif.

Melalui survei konsumen, studi pengalaman pelanggan, dan analisis touchpoint, brand dapat memahami ekspektasi, hambatan, dan motivasi pembeli kendaraan baru. Insight ini memungkinkan perusahaan merancang strategi yang lebih efektif untuk meningkatkan conversion dan customer satisfaction.

Jika brand Anda ingin mengoptimalkan pengalaman pembelian kendaraan dan mengurangi customer pain points, lakukan customer journey pain point analysis bersama Market Research Populix.

Sebab, pendekatan berbasis data akan membantu Anda mengambil keputusan strategis yang lebih tepat dan customer-centric. Langsung saja hubungi kami untuk mendapatkan informasi layanan lebih lengkap!

populix research service

Baca juga: Strategi Pengembangan Produk Baru Otomotif Indonesia

Tags:
Artikel Terkait
Path Analysis: Definisi, Cara Menggunakan, Contoh
Ada beragam istilah yang perlu Anda pahami dalam proses riset atau penelitian, salah satunya yaitu path analysis. Mengutip Research Connections, path analysis adalah penggunaan khusus dari regresi berganda yang tujuannya untuk membedakan dan menilai dampak serangkaian variabel terhadap suatu hasil. Analisis jalur (path analysis) merupakan suatu bentuk analisis yang melihat penyebab secara eksplisit. Pola hubungan […]
7 Ciri-Ciri Uang Palsu, Waspadai Peredarannya!
Salah satu hal perlu diwaspadai menjelang lebaran yaitu adanya peredaran uang palsu. Sebagai masyarakat, kita perlu mengetahui ciri-ciri uang palsu agar tidak menjadi korbannya. Mengutip dari situs Bank Indonesia, peredaran uang palsu biasanya dilakukan di pasar tradisional atau toko-toko kecil dengan cara yang dibelanjakan pada saat ramai pengunjung atau pembeli. Alasan sering terjadi di kondisi […]
8 Persiapan Kuliah S2 yang Wajib Diketahui Sebelum Mendaftar
Membuat keputusan melanjutkan studi S2 haruslah dipikirkan secara matang. Sebab, persiapan kuliah S2 atau program magister cukup berbeda dengan kuliah S1 atau sarjana. Persiapan yang lebih rinci diperlukan ketika hendak kuliah program magister. Penting pula memikirkan tujuan Anda mengambil studi S2, seperti untuk karier dan kehidupan pribadi Anda. Selain itu, di sejumlah program S2 ada […]