Stakeholder Adalah: Definisi, Jenis, Perannya dalam Bisnis
Populix

Stakeholder Adalah: Definisi, Jenis, Perannya dalam Bisnis

6 bulan yang lalu 5 MENIT MEMBACA

Bekerja di sebuah lingkup perusahaan, tentu Anda cukup sering mendengar istilah stakeholder. Namun tak sedikit orang yang masih belum mengerti apa itu stakeholder dan contohnya. Sederhananya, stakeholder adalah sebutan bagi mereka yang memiliki posisi penting di sebuah lingkup, seperti pada perusahaan, bisnis, organisasi, pendidikan bahkan di dunia pariwisata.

Apa Itu Stakeholder?

Stakeholder adalah istilah yang digunakan oleh lembaga publik bagi posisi pengambil keputusan sampai proses implementasinya. Beberapa contoh stakeholder adalah karyawan, konsumen, distributor hingga pemegang saham dan pemerintah. Itulah sebabnya, perusahaan harus bisa menyelaraskan tujuan bisnisnya dengan para stakeholder.

Awalnya, stakeholder adalah titel bagi individu atau kelompok yang berkecimpung langsung dalam sebuah bisnis. Namun, seiring perubahan mindset banyak lembaga bisnis dan berjalannya waktu, stakeholder artinya mencakup hingga ke banyak pihak lain yang juga punya kepentingan dalam perusahaan. Hubungan yang dimaksud disini meliputi persoalan finansial, pengembangan perusahaan dan lain sebagainya.

Secara garis besar, siapapun yang dapat memengaruhi atau dipengaruhi oleh kebijakan perusahaan, baik positif maupun negatif, maka orang-orang tersebut dapat dikelompokkan sebagai stakeholder.

Baca juga: Customer Engagement: Definisi serta Cara Meningkatkan

Peran Stakeholder

stakeholder adalah
Source: Freepik

Setiap pihak dapat memberikan kontribusi sesuai keahliannya masing-masing. Sehingga dapat dipahami bahwa peran dan contoh stakeholder tidak bisa disamaratakan, karena setiap peran punya fungsi yang berbeda.

Di antara beberapa peran stakeholder adalah sebagai berikut.

1. Bank

Selaku lembaga keuangan, bank berfungsi sebagai creditor atau pihak yang memberikan pinjaman kepada pemilik perusahaan dalam jangka waktu dan jaminan tertentu yang telah disepakati.

2. Investor

Sebuah perusahaan pasti membutuhkan modal untuk tetap bisa beroperasi. Di sinilah, peran investor dibutuhkan. Tak hanya selaku pemegang saham, investor juga berfungsi sebagai pengamat yang mengawasi kinerja para karyawan dalam perusahaan.

3. Supplier

Proses produksi dalam sebuah industri tentu sangat bergantung pada ketersediaan bahan baku. Oleh karena inilah, peran supplier sebagai salah satu contoh stakeholder adalah pihak yang sangat penting.

4. Karyawan

Karyawan merupakan peran stakeholder yang banyak berkontribusi dalam perusahaan. Peran karyawan cukup penting mengingat posisinya yang berkaitan langsung dari awal proses produksi hingga distribusi produk.

5. Konsumen

Konsumen cukup memiliki andil pada stakeholder dalam bisnis. Sebuah perusahaan perlu mendengar masukan konsumen untuk menunjang kualitas produk dan mendatangkan keuntungan bagi kedua pihak.

6. Pesaing

Hampir seluruh bidang bisnis pasti memiliki kompetitor. Ternyata, selain memperhatikan faktor internal, aspek kompetitor juga perlu diperhatikan agar perusahaan bisa berbenah atas kekurangan dan sebagai motivasi untuk terus maju.

7. Pemerintah

Setiap perusahaan yang berdiri tentu harus memiliki izin dari pemerintah agar legalitasnya terjamin dan diakui. Oleh karena inilah peran pemerintah sebagai salah satu contoh stakeholder perlu diperhatikan.

Fungsi Stakeholder

1. Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Bukan hanya sebatas tempat bekerja, perusahaan juga harus memiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap seluruh jajarannya. Selain itu, industri juga dituntut untuk dapat menyeimbangkan hubungan setiap stakeholder dalam bisnis.

2. Manajemen Langsung

Di beberapa perusahaan, pengaturan bisnis dan operasional dapat dipegang langsung oleh para stakeholder. Artinya, perusahaan tersebut bersedia untuk memberikan posisi bagi stakeholder agar dapat berpartisipasi langsung.

3. Pendukung Keuangan

Keputusan penambahan atau pengurangan investasi oleh para pemilik saham berdasarkan kondisi finansial adalah salah satu contoh kasus stakeholder perusahaan. Itulah sebabnya, perusahaan wajib menjalin relasi yang baik.

4. Membuat Keputusan

Dalam menentukan suatu kebijakan, perusahaan perlu mempertimbangkan saran dan pendapat dari stakeholder. Artinya, seluruh keputusan yang nantinya diambil akan sangat dipengaruhi oleh ide atau gagasan yang dimiliki stakeholder perusahaan.

Baca juga: Customer Journey: Pengertian, Tahapan, Contohnya

Jenis Stakeholder

jenis stakeholder adalah
Source: Freepik

Dilihat dari posisi, pengaruh serta kekuatannya, ada beberapa jenis stakeholder yang telah dikelompokkan berdasarkan peran terhadap perusahaan dan fungsinya masing-masing.

Di antara beberapa jenis stakeholder adalah sebagai berikut.

1. Stakeholder Primer

Stakeholder primer adalah perusahaan yang memiliki kuasa dalam menentukan kebijakan dan pengambil keputusan dalam program yang berjalan.

2. Stakeholder Sekunder

Stakeholder sekunder atau pendukung adalah contoh kasus stakeholder perusahaan yang hanya mempunyai kepedulian berupa suara dan pengaruh, tetapi tidak memiliki hubungan dan kepentingan terhadap suatu proyek, kebijakan ataupun program.

Lembaga swadaya masyarakat, kelompok akademis seperti perguruan tinggi, pengusaha, dan lembaga pemerintah merupakan contoh dari stakeholder sekunder.

3. Stakeholder Kunci

Stakeholder kunci merupakan contoh kasus stakeholder perusahaan yang mempunyai kewenangan legal saat pengambilan keputusan maupun penentuan kebijakan. Contoh dari jenis stakeholder kunci adalah DPR, pemerintah serta dinas terkait yang berhubungan dengan proyek tersebut.

Baca juga: Pengertian Creative Thinking dan Tips Melatih Kemampuannya

Perbedaan Shareholder dan Stakeholder

Walau sama-sama punya kemampuan untuk memengaruhi pengambilan kebijakan di suatu perusahaan, nyatanya, sering kali ditemukan banyak perbedaan shareholder dan stakeholder. Sederhananya, stakeholder tidak selalu menjadi shareholder, tetapi shareholder sudah pasti berperan menjadi stakeholder.

Lalu, apa itu sebenarnya shareholder? Shareholder adalah pihak yang memiliki saham finansial dalam perusahaan. Artinya, sebagian kepemilikan perusahaan dimiliki oleh shareholder. Itulah mengapa shareholder punya hak dan kewenangan untuk melakukan pemungutan suara atas kebijakan di sebuah perusahaan.

Secara garis besar, salah satu perbedaan shareholder dan stakeholder adalah jangka waktu keterikatannya. Shareholder tidak punya kebutuhan jangka panjang terhadap perusahaan. Sebab, shareholder bisa menjual saham mereka dan membeli saham perusahaan lain. Berbeda dengan stakeholder yang biasanya terikat oleh perusahaan dalam jangka waktu yang lama.

Meski demikian, tidak semua lembaga mempunyai shareholder. Misalnya saja perguruan tinggi dan lembaga lain yang tidak memiliki saham.

Dapat disimpulkan bahwa perbedaan shareholder dan stakeholder adalah sebagai berikut

  1. Shareholder termasuk stakeholder, tetapi stakeholder artinya bukan bagian dari shareholder.
  2. Shareholder punya kepemilikan saham di perusahaan, sementara stakeholder tidak semuanya punya kaitan dalam finansial perusahaan.
  3. Shareholder hanya terkena dampak dari kebijakan yang dipengaruhi oleh stakeholder.
  4. Bila ada perubahan kebijakan, shareholder hanya terkena dampak secara langsung, sedangkan stakeholder bisa terpengaruh baik secara langsung maupun tidak langsung.
  5. Sebagian kepemilikan dipegang oleh shareholder, berbeda dengan stakeholder yang tidak semuanya mempunyai saham perusahaan.

Stakeholder adalah peran yang cukup penting dalam perusahaan maupun bisnis. Suatu perusahaan, kelompok, dan instansi tentu membutuhkan stakeholder dalam menjalankan bisnis. Dengan begitu, kebijakan dan sistem perusahaan yang telah ditetapkan dapat menguntungkan semua pihak.

Itu tadi pembahasan kami mengenai stakeholder beserta peran dan fungsinya. Untuk menemukan inspirasi dan informasi di dunia bisnis lainnya, Anda bisa menemukannya di Blog Populix.

aplikasi Populix survei online

Baca juga: Pangsa Pasar Adalah: Definisi, Manfaat, serta Jenisnya

Artikel Terkait
Frugal Living: Pengertian, Manfaat, Tips Menjalaninya
Pernahkah Anda mendengar istilah frugal living? Jadi sederhananya, frugal living adalah gaya hidup hemat yang didasarkan pada kesadaran akan pengeluaran serta kemampuan untuk mengontrol pengeluaran tersebut. Gaya hidup seperti ini pun sudah banyak diterapkan oleh sejumlah kalangan. Tujuannya tentu saja agar tidak mengalami kesulitan keuangan di kemudian hari. Yuk, cari tahu lebih detail lagi tentang […]
Objektivitas Adalah: Pengertian serta Contoh pada Penelitian
Anda tentu sudah tidak asing lagi dengan kata objektivitas. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mengartikan objektivitas adalah sikap jujur, tidak dipengaruhi pendapat dan pertimbangan pribadi atau golongan dalam mengambil putusan atau tindakan. Objektivitas adalah hal yang sangat penting dalam penelitian. Sebab, tujuan utama dari penelitian atau riset yaitu untuk mencari pemahaman yang akurat dan tepercaya […]
Studi Kelayakan Bisnis: Pengertian, Tujuan, Aspek & Contoh
Dalam membangun sebuah usaha, modal saja tidak cukup untuk membuat bisnis Anda sukses. Diperlukan banyak pertimbangan serta rencana bisnis yang matang. Inilah pentingnya melakukan studi kelayakan bisnis, yaitu untuk menguji apakah bisnis Anda sudah layak dijalankan atau belum. Meskipun penting, nyatanya masih banyak pelaku bisnis yang mengabaikan hal berikut. Akibatnya, tidak sedikit dari mereka akhirnya […]