Perilaku Konsumen Generasi Z saat Belanja Online, Yuk Simak!
Populix

Perilaku Konsumen Generasi Z saat Belanja Online, Yuk Simak!

1 bulan yang lalu 6 MENIT MEMBACA

Memahami perilaku konsumen generasi Z adalah salah satu hal yang perlu dilakukan oleh pebisnis sebelum merencanakan strategi pemasaran.

Hal ini disebabkan karena sebagian besar segmen pasar di Indonesia merupakan bagian dari generasi Z dan akan berperan penting dalam laju perekonomian.

Sedangkan, karakter generasi Z yang tumbuh bersama dengan perkembangan teknologi tentu jauh berbeda dengan generasi sebelumnya.

Jadi, bagaimana perilaku konsumen generasi Z? Yuk, simak ulasan selengkapnya pada artikel berikut!

Perilaku Konsumen Generasi Z

Berdasarkan riset yang dilakukan oleh Populix, 94% generasi Z menggunakan internet setiap harinya bahkan 60% di antaranya menghabiskan waktu lebih dari 5 jam untuk berselancar di jagat maya.

Hal tersebut menunjukkan bahwa perilaku konsumen generasi Z selalu mengandalkan smartphone untuk mencari produk yang dibutuhkan sebelum memutuskan untuk membelinya. 

Generasi Z yang cenderung bersifat tech-savvy juga senang dan aktif berinteraksi dengan brand favoritnya secara online. 

Selain kedua hal tersebut, masih ada beberapa perilaku konsumen generasi Z dalam berbelanja, di antaranya:

1. Mengikuti Rekomendasi Teman Daripada Mengikuti Tren

Meskipun sebuah tren bisa mendorong minat masyarakat pada suatu brand tertentu, namun tidak semua hal yang populer akan demikian.

Generasi Z akan lebih mempercayakan pilihan mereka terhadap suatu brand berdasarkan rekomendasi teman, daripada mengikuti selebriti atau influencer.

Lebih dari 68% responden yang mengisi riset Populix menyatakan lebih mempertimbangkan rekomendasi teman saat memilih brand. 

Jadi, sebelum membuat produk yang sesuai dengan tren, Anda harus memastikan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan pasar atau tidak. 

Jangan sampai Anda terlalu fokus untuk mengikuti tren, tanpa membaca kebutuhan target market produk tersebut. 

2. Tidak Mudah Tergiur Harga Murah

Perilaku konsumen generasi Z selanjutnya adalah memilih untuk memprioritaskan kualitas daripada harga murah. 

Populix menyatakan bahwa 64% generasi Z percaya bahwa kualitas suatu produk akan berbanding lurus dengan harganya. 

Mereka termasuk dalam golongan perfeksionis dan high quality consciousness yang tidak segan mengeluarkan uang lebih banyak untuk mendapatkan produk bermutu. 

Itulah sebabnya, generasi Z seringkali mempertimbangkan testimoni atau review dari pelanggan sebelumnya sebelum memutuskan untuk membeli suatu produk.

Baca juga: Pentingnya Analisis Pasar untuk Bisnis, Ini Tujuan & Caranya! 

3. Belanja Online Secara Nyaman

Orientasi terhadap kualitas membuat generasi Z menginginkan informasi sebanyak-banyaknya terhadap suatu produk yang akan dibeli.

Sedangkan, saat berbelanja online mereka tidak bisa melihat produknya secara fisik. Hal inilah yang seringkali menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha.

Sebagai tips, Anda bisa menyediakan foto atau video produk secara detail dan dilengkapi dengan keterangan lengkap untuk membangun kepercayaan konsumen.

Selain itu, pastikan bahwa akses platform belanja Anda sudah user friendly, sehingga akan membuat konsumen merasa nyaman saat mencari produk yang diinginkan. 

4. Lebih Senang Belanja di Marketplace

Meskipun banyak pilihan platform untuk berbelanja, marketplace merupakan tempat favorit yang dipilih untuk belanja online.

Pada marketplace, ada berbagai promo, transaksi yang aman, metode pembayaran beragam, serta fitur gratis ongkir menjadi alasan platform ini sangat digemari pelanggan.

Kehadiran berbagai marketplace membuat konsumen tidak hanya terpaku pada satu platform, mereka akan cenderung memilih mana yang menawarkan lebih banyak keuntungan.

Selain itu, perilaku konsumen generasi Z juga lebih mempertimbangkan untuk berbelanja melalui official store, power merchant, star seller, yang ada di marketplace. 

5. Pengguna Aktif Media Sosial

Generasi Z menganggap bahwa media sosial merupakan platform yang paling mudah untuk membangun komunikasi.

Hal ini dibuktikan dengan survei dari Populix yang menyatakan bahwa 88% generasi Z di Indonesia aktif menggunakan media sosial.

Mereka memilih platform seperti Twitter, Instagram, YouTube, TikTok, Telegram, dan sebagainya yang menyajikan media visual.

Generasi Z lebih tertarik dengan grafis menarik daripada harus membaca artikel padat dan bertele-tele. 

Adapun beberapa konten kreatif yang paling mudah untuk menarik perhatian mereka adalah video parodi, meme receh, dan sebagainya. 

Baca juga: 12 Contoh Campaign Produk yang Unik & Menarik untuk Bisnis 

6. Tidak Ragu Berpendapat

Perilaku konsumen generasi Z selanjutnya adalah tidak ragu untuk menyuarakan hal yang menurut mereka benar. 

Mereka berani untuk menyatakan kritik terbuka kepada rekan atau bahkan brand secara online melalui berbagai pernyataan tanggapan, informasi, serta sumber yang mendorong pemikiran kritis. 

Artinya, generasi Z bisa memberikan dampak yang kuat terhadap opini publik lainnya berdasarkan pernyataan-pernyataan yang mereka utarakan. 

7. Mudah Bosan dan Kurang Fokus

Sebagai pengguna internet, perilaku konsumen generasi Z akan dipengaruhi oleh berbagai informasi yang diterima secara daring.

Perpindahan informasi di internet yang sangat cepat membuat mereka cepat bosan terhadap sesuatu dan tidak bisa berfokus hanya pada satu brand.

Sehingga, sebagai pengusaha, Anda perlu terus berinovasi untuk memberikan sesuatu yang baru untuk mempertahankan konsumen tersebut. 

Tips Menyusun Strategi Penjualan untuk Generasi Z

Seperti yang disebutkan sebelumnya, perilaku konsumen generasi Z akan berperan penting pada pertumbuhan ekonomi. 

Sehingga, Anda perlu melakukan berbagai upaya dan strategi pemasaran yang bisa menarik perhatian mereka dan mempertahankannya. 

Adapun beberapa tips strategi pemasaran yang bisa dilakukan berdasarkan perilaku konsumen generasi Z, di antaranya:

1. Memaksimalkan Penggunaan Media Sosial

Untuk menyesuaikan perilaku konsumen generasi Z, Anda tidak cukup dengan hanya beralih penjualan menggunakan platform online.

Anda harus mendekatkan diri dengan konsumen tersebut melalui platform-platform media sosial yang sering mereka gunakan untuk mencari informasi.

Melalui social media marketing, Anda bisa membangun brand persona untuk menarik calon konsumen dan menjalin komunikasi dengan mereka. 

Baca juga: Cara Menghitung Diskon dengan Benar, Ini Rumus & Contohnya! 

2. Micro-storytelling Campaign

Untuk menarik perhatian generasi Z, Anda harus menyesuaikan strategi pemasaran dengan menggunakan ‘bahasa’ mereka. 

Konten berbentuk micro-storytelling berupa video merupakan jenis yang lebih mudah diterima oleh generasi Z.

Maka dari itu, Anda bisa memaksimalkan penggunaan fitur media sosial seperti Instagram Reels, YouTube Shorts, atau TikTok.

Konten-konten pendek berbentuk video akan lebih disenangi karena lebih singkat dan padat.

3. Riding The Wave

Kecenderungan generasi Z untuk selalu mencari informasi melalui smartphone membuat mereka senang memperhatikan tren yang sedang beredar di media sosial. 

Anda bisa memanfaatkan momen ini untuk menghasilkan konten-konten yang berhubungan dengan tren tersebut.

Usahakan untuk mencari celah dengan sudut pandang yang unik dan tidak terkesan monoton, namun tetap disesuaikan dengan nilai brand Anda.

Itu dia penjelasan seputar perilaku konsumen generasi Z beserta tips menyusun strategi penjualan terhadap mereka.

Sebagai pebisnis, Anda bisa melakukan berbagai upaya pendekatan konsumen generasi Z, misalnya dengan memanfaatkan media sosial dan tren yang sedang beredar. 

Selain itu, Anda juga bisa melakukan social listening dengan membuat survei online di Poplite by Populix untuk mengetahui minat dan kebutuhan mereka. 

Poplite merupakan sebuah platform self-service survei yang telah memiliki 300.000+ responden di seluruh Indonesia.

Melalui Poplite, Anda bisa mendapatkan data secara relevan, cepat, dan tentunya terjangkau. 

Jadi, yuk kenali perilaku konsumen generasi Z yang sesuai dengan brand Anda bersama Poplite by Populix.

Baca juga: Pengertian Buyer Persona, Manfaat, Contoh, dan Cara Membuat

Tags:
Artikel Terkait
Apa itu Technopreneurship? Simak Tujuan, Alasan, dan Contoh
Dalam dunia kewirausahaan, istilah technopreneurship juga umum dikenal selain entrepreneurship. Sesuai namanya, technopreneurship adalah aktivitas bisnis yang berbasis pada teknologi. Bisnis ini semakin membuka peluang bisnis baru untuk memanfaatkan kehadiran teknologi. Lantas sebenarnya, apa perbedaan technopreneurship dan entrepreneurship? Kegiatan bisnis seperti apa yang tergolong contoh technopreneurship? Simak artikelnya sampai akhir untuk menemukan jawabannya. Pengertian Technopreneurship […]
Design Thinking: Pengertian, Manfaat, dan Tahapannya
Anda mungkin menganggap design thinking adalah istilah yang identik dengan pekerjaan designer, arsitek, UI/UX, desain grafis, atau illustrator.  Padahal, design thinking adalah sebuah konsep yang bisa diadopsi oleh siapapun, mulai dari individu, UMKM, bisnis startup, maupun perusahaan besar sekalipun.  Mengapa demikian? Hal ini karena design thinking sangat dibutuhkan untuk memahami kebutuhan pengguna, menciptakan produk baru, […]
5 Aplikasi Kencan Online Terbaik 2022 untuk Cari Pasangan
Aplikasi kencan online merupakan alternatif baru yang akhir-akhir ini banyak digunakan masyarakat untuk mencari pasangan. Teknologi ini dapat mempertemukan Anda dengan lawan jenis dari berbagai latar belakang dan wilayah. Berbekal smartphone, kini menemukan teman ngobrol baru yang bahkan bisa berujung status percintaan menjadi lebih mudah. Meskipun sempat menjadi kontra karena kemungkinan penipuan yang dialami, namun […]
Populix
07 Sep 2020